Part 2: Melanjutkan Reformasi Pendidikan Ahmad Dahlan



Dalam pertemuan rapat kordinasi tingkat Nasional Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah, yang berlangsung tanggal 5-7 September 2019 di LPMP Yogyakarta, menteri Pendidikan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, M.A.P. mengkritik sekolah-sekolah Muhammadiyah yang mundur kebelakang disisi sistem pendidikan.

Dia menjelaskan Kyai Ahmad Dahlan berani menggunakan bangku dan kursi mencontek pendidikan Belanda karena lebih mewakili zaman saat itu. Meninggalkan metode tradisionalis yang tidak progresif. Walaupun sempat kisruh dan dianggap menerapkan sistem kafir didalam proses pendidikan agama islam, sikap para penetang dapat dimaklumi karena stagnansi berpikir yang kaku para guru-guru tradisionalis.

Proses yang tidak panjang tersebut, pada akhirnya dipahami mutlak sebagai reformasi pendidikan yang terbaik dan dicontek seluruh lembaga pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Semangat reformasi dengan penuh nilai perjuangan inilah yang menjadi dasar Rakornasdik 2019 setelah lebih 100 tahun organisasi Muhammadiyah mempelopori warna baru pendidikan Indonesia.

Rentang 1 abad dalam catatan sejarah selalu menjadi ukuran terjadinya perubahan-perubahan mendasar dalam segala hal diikuti penetangan hebat pula. Tidak pelak tahun 2019 ini ibarat kembali mengulangi prosesi reformasi pendidikan Kyai Ahmad Dahlan. Jika dahulu yang dipermasalahkan adalah Bangku dan Meja, kali ini berwujud Teknologi Smartphone.

Dalam kutipan hadits shahih dari Abu Hurairah r.a. beliau menarasikan sabda Rasulullah SAW:
“إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

"Sesungguhnya Allah  SWT akan menghadirkan  ditengah umat  orang yang akan memperbarui  urusan agama mereka pada setiap akhir seratus tahun"

Upaya memperbarui sistem pendidikan yang terintegrasi dengan teknologi sebenarnya bukanlah hal yang perlu ditakuti bak invasi kafir diranah pendidikan sekolah islam. Karena teknologi tidak memiliki nilai, baik nilai keberpihakan kepada satu agama maupun nilai ideologis lainnya, teknologi bebas nilai sehingga siapapun yang menguasainya secara mutlak mampu memberi nilai tersendiri, sesuai dengan apa yang ia yakini dan kuasai.

Jika Teknologi  dipelajari dengan baik dan benar, dapat dipergunakan sebagai sarana dakwah islam yang progresif. Contoh sederhana dai-dai muda mampu berdakwah viral menggunakan teknologi dikarenakan keilmuan mereka yang lebih kaya daripada dai-dai tradisionalis.



Guru-guru sekolah islam juga seharusnya mampu mempelajari teknologi dengan mudah, karena sertifikasi guru yang ia terima sedikit sebanyak mampu memahamkan bagaimana proses belajar-mengajar yang efektif . Adalah sangat kontras jika pendidik tidak mampu mempelajari teknologi baru sedangkan ia juga mendidik siswa-siswanya.

Sikap mengkafirkan smartphone,   a
palagi sampai mengharamkannya tanpa sertifikasi majelis ulama Indonesia, adalah keputusan mundur yang tidak mengikuti zaman, dan berpotensi menjadi keputusan yang menentang reformasi pendidikan Kyai Ahmad Dahlan serta cita-cita Muhammadiyah.

SOLUSI

Penguasaan teknologi adalah keharusan,  dalam prinsip penggunaan smartphone dapat dilakukan pembatasan-pembatasan sistem. Sehingga akses siswa dapat dikendalikan dengan baik. Sisi-sisi negatif teknologi dapat diminimalisir sangat ketat dengan pembatasan tersebut.



Contoh terapan sederhana adalah aplikasi  Kids Zone untuk smatphone dan tablet berbasis android, semua fitur yang ditawarkan sudah cukup memenuhi kebutuhan sekolah islam dalam proses belajar mengajar yang positif. Fiturnya dapat mengatur aplikasi tertentu saja yang dapat digunakan oleh siswa, pembatasan waktu penggunaan juga diberikan, gratis pula.

Digabungkan dengan aplikasi Edumu, smartphone anak-anak akan menjadi perangkat multiguna yang mampu membantu proses pendidikan sekolah sekaligus mengejar ketertinggalan sekolah dalam dunia pendidikan modern.

Kota Balikpapan menjadi pioner diwilayah Kalimantan Timur dalam penerapan sistem pendidikan modern Muhammadiyah tersebut, sampai saat ini empat sekolah Muhammadiyah sudah berhasil menerapkan sistem digital education, SMP Muhammadiyah 1 Balikpapan, SMP Muhammadiyah 2 Balikpapan, SMA Muhammadiyah 1 Balikpapan dan SMK Muhammadiyah 1 Balikpapan, serta akan menyusul satu sekolah lagi ditingkat sekolah dasar yaitu SD Muhammadiyah 1 Balikpapan.

Penulis: Syahrani (Praktisi Pendidikan Balikpapan)
iklan banner