Muhammadiyah Usul Pendidikan Enterpreuneurship Sejak Dini

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan bahwa masalah kesenjangan ekonomi saat ini tidak boleh dianggap ringan. Diketahui, indeks gini Indonesia sekarang berada pada angka 0,39.

"Karena dia merupakan bom waktu yang pada saatnya akan meledak, dan kalau sudah meledak, maka negeri ini akan kacau dan kita semua akan panik dibuatnya," ujar Abbas dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Oleh karena itu, lanjut Abbas, bentuk dan struktur masyarakat hari ini yang seperti piramid dengan kebijakan bersifat affirmatif action harus bisa ditransformasikan kepada bentuk seperti belah ketupat.

"Dimana jumlah kelas atas yang superkaya itu jumlahnya cukup 2% . Kelas menengah 95% dan kelas bawah 3%,"katanya.

Akan tetapi, persoalannya untuk memperbesar jumlah kelas menengah tersebut jelas tidak mudah. Maka perlu ada proses diseminasi mentalitasentrepreneurship dan intrapreneurship bersifat massif, terutama di kalangan anak-anak didik.

"Bagi saudara-saudara kita dari etnis China hal ini tidak bermasalah, karena mereka umumnya sudah hidup dalam keluarga yang umumnya menghormati dan memuliakan pekerjaan sebagai pengusaha dan atau pedagang. Berbeda dengan kita-kita yang lebih menghormati pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil, tentara dan atau polisi,"ungkapnya.

Menurut Abbas, untuk menumbuhkan dan mengembangkan entrepreneurship atau intrapreneurship mentality di kalangan anak-anak Indonesia, tentu jelas tidak mudah karena mileu(lingkungan sekitar) atau dukungan dari lingkungan keluarga kurang mendukung.

Peran dunia pendidikan untuk menciptakan mentalitas kewirausahaan di kalangan anak-anak didik sangat diharapkan, melalui dua hal, yaitu bagaimana sekolah atau perguruan tinggi bisa memberikan  pengetahuan atau teori dan praktek bisnis dan berbisnis secara teratur dan berketerusan.

"Karena, dengan cara inilah akan bisa terbentuk kebiasaan berbisnis di kalangan anak-anak didik kita. dan kalau berbisnis itu sudah biasa bagi mereka, maka tentu masalah berbisnis itu  akan menjadi budaya dan atau mentality bagi sang anak," ucapnya.

Perlu ada dua langkah yang harus dilakukan untuk mendukung terciptanya hal itu. Pertama memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang bisnis kepada anak-anak didik sedini mungkin, minimal sejak sekolah dasar kelas satu sampai ke perguruan tinggi.

"Kedua, menciptakan aura dan kondisi serta praktek  berdagang serta berbisnis  di kalangan anak-anak didik kita di sekolah dan atau di luar sekolah,"katanya.

 

Market Day

Abbas menambahkan, minimal sekali dalam seminggu dalam rentang waktu istirahat sekolah diselenggarakan 'bisnis atau market day'. Dengan mempersilahkan anak-anak didik untuk berdagang di kantin atau di halaman  sekolah.

"Jadi, pada hari-hari tersebut yang berdagang di kantin atau di sekolah bukan bapak-bapak dan atau ibu-ibu yang sudah biasa berjualan disana, tapi adalah anak-anak didik kita. Bila ini bisa kita lakukan, di samping ada pemberian wawasan tentang ekonomi dan bisnis di kelas, berarti anak-anak didik kita akan punya pengalaman berdagang dan berbisnis 50 kali dalam setahun,"katanya.

Saat Tamat SD, anak didik punya pengalaman 300 hari berbisnis. Tamat SLTA, sudan punya pengalaman 600 hari berbisnis, dan tamat Perguruan Tinggi punya pengalaman 800 hari berbisnis.

Abbas berpendapat, bila hal ini bisa dilakukan, maka dalam diri anak-anak didik akan terbentuk mentalitas baru yaitu entrepreneurship mentality atauintrapreneurship mentality.

Bila terjadi pada diri anak-anak didik, tentu produktifitas anak-anak bangsa akan meningkat, bila produktifitas anak bangsa meningkat, tentu negeri ini akan menjadi negeri yang kuat, mandiri dan maju.

Tetapi, hal yang menjadi persoalan adakah keinginan masyarakat dan atau pemerintah untuk mengambil langkah-langkah bersifat struktural dan kultural ini ke dalam dunia dan proses pendidikan yang diselenggarakan.

"Jawabnya, menurut saya harus mau kalau kita ingin negeri ini menjadi negeri yang kuat, mandiri dan maju," tandasnya. (SS)

Voaislam

iklan banner