Hacker Yang Ketahuan Menjahili Website KPU

Jangan miliki niat atau rencana untuk meretas situs Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hacker yang kedapatan lakukan itu bisa terancam pidana dengan kurungan hingga 10 tahun.

Itu belum ditambah atau denda hingga Rp 10 miliar. Situs KPU memang akhir-akhir ini tengah jadi sorotan. Menjelang detik-detik pengumuman rekapitulasi hasil Pilkada dan Pilgub, situs tersebut kerap dirongrong tangan-tangan usil.

Ismail Cawidu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo menjelaskan, dalam pasal 32 UU ITE menyebut jika orang yang mengubah, menambah, mengurangi, memindahkan, menyembunyikan suatu informasi elektronik atau dokumen orang lain maka ancaman hukuman yang menanti yakni 8 tahun atau denda Rp 2 miliar.

Belum terhenti sampai di sini, pasal 22 UU ITE menyebut jika sampai mengakibatkan sistem tidak bekerja sebagaimana mestinya maka hacker bisa diancam hukuman penjara 10 tahun atau denda Rp 10 miliar.

Sebenarnya isu semacam ini bukan barang baru bagi KPU. Sepuluh tahun yang lalu, situs KPU diretas untuk pertama kali, tepat ketika Indonesia sedang menyelenggarakan pemilu.



Pelakunya adalah Dani Firmansyah yang dikenal juga dengan nama Xnuxer. Setelah berhasil menembus, Dani meninggalkan jejak dengan mengubah gambar-gambar partai peserta pemilu, seperti Partai Jambu, Partai Air Minum Dalam Kemasan, Partai Nanas, dan lain sebagainya.

Setelah penyelidikan Polda Metro Jaya, akhirnya pihak kepolisian berhasil menangkap Dani di kantornya. Konsultan teknologi informasi Dana Reksa ini mengaku hanya ingin mengetes keamanan situs tersebut, tanpa ada muatan kepentingan politik.

Sebagai ganjaran atas aksinya, Dani dijatuhi hukuman kurunganp enjara 6 bulan 21 hari oleh Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat.

Erza Julian atau lebih dikenal dengan inisial di dunia maya dengan nama E5a_Cyb3r juga pernah meretas website KPU.

Dia merupakan peretas paling muda yang berhasil membobol website KPU kemudian mengubah tampilannya dan membuat admin kewalahan untuk mengembalikan situsnya kembali seperti sedia kala.

Entah karena sombong atau bodoh, justru menuliskan pesan kepada admin bahwa dialah yang melakukan aksi tersebut dan membubuhkan alamat email, Facebook dan Twitter di tampilan defacingnya.

Diketahui, Erza merupakan salah satu anggota dari grup hacker terkenal di Tanah Air, Manusia Biasa Team serta Anonymous Hacker Indonesia. (SS)

Kumparan
Liputan6
iklan banner